Metode baru Pengobatan kanker kolorektal tanpa pembedahan dan kemoterapi

    Kanker kolorektal atau kanker rektum umumnya tumbuh pada usus besar adalah salah satu tumor ganas di saluran pencernaan yang paling umum dijumpai, menurut survei International Agency Research for Cancer (IARC), pada tahun 2012 terdapat 1,36 juta kasus kanker kolorektal, dan sekitar 690.000 penderita meninggal dunia, tingkat kematian di garis terdepan dari tumor ganas.

Klik untuk berkonsultasi dengan dokter  >>>

    Karakteristik perkembangan terjadinya kanker kolorektal sangat cepat, jika tidak segera ditangani dengan tepat, akan langsung menyebar ke jaringan yang berdekatan dengan rongga perut bagian dalam lainnya, banyak contoh kasus pasien kanker kolorektal yang sangat cepat menyebar dan berkembang menjadi kanker rahim, kanker ovarium, kanker kandung kemih, kanker peritoneum dan kanker sekunder lainnya. karakteristik lainnya adalah metastasis ataub penyebaran kanker kolorektal melalui aliran darah dan sistem limfatik/getah bening menuju ke organ dalam lainnya, kasus yang paling umum adalah penyebarannya menuju ke hati dan paru-paru, dan berkembang menjadi kanker paru-paru dan hati.
 
Klik untuk berkonsultasi dengan dokter  >>>
 
    Penanganan utama yang umum dilakukan adalah operasi dan menjalani radioterapi dan kemoterapi. Efek reseksi bedah kanker kolorektal sebagian besar penderita akan kesulitan untuk BAB atau tidak tuntas, bahkan kehilangan fungsi usus besar, kasus-kasus seperti ini biasa diselesaikan dengan kolostomi guna untuk memakai alat bantu kantong tinja setiap harinya, dengan kondisi kantong tinja tergantung di tubuh jangka panjang, kemanapun harus dibawa, juga akan muncul bau yang tidak sedap, tentu ini sangat risih dan tidak nyaman, dan tidak berani tampil di tempat umum, pertemuan kerabat dan teman lain acara lainnya, ini tentu hal yang sangat memalukan. Selain itu, perawatan pembedahan seringkali tingkat kekambuhannya tinggi. Begitu kambuh, penderita akan segera meninggal.

    Radioterapi dan kemoterapi umumnya digunakan sebelum dan setelah operasi, tujuannya adalah untuk menyusutkan dan menghilangkan sel-sel tumor dan kanker yang tersisa setelah operasi, tetapi hasilnya tidak maksimal dan tidak efektif secara klinis, dan banyak efek samping, seperti mual, muntah, rambut rontok, badan lemah, dll, ditambah lagi pasca operasi rektum juga akan mempengaruhi fungsi gastrointestinal dan memperburuk efek samping radioterapi dan kemoterapi, membuat pasien lebih menderita. Oleh karena itu, banyak pasien yang hanya menjalani 2-3 kali kemoterapi, mereka berhenti berobat karena tidak tahan akan efeknya, sehingga berakibat langsung pada kekambuhan kanker.

    Munculnya imunoterapi dalam pengobatan kanker kolorektal mendapatkan hasil baik, sistem imunoterapi ini telah disertifikasi oleh Food and Drug Administration (FDA) AS, metode ini tidak perlu menjalani operasi, radioterapi dan kemoterapi, sehingga tidak perlu menahan rasa sakit dan efek samping minim, dan dikombinasikan dengan pengobatan memakai peralatan hipertermia skala besar, mampu meningkatkan hasil yang baik, penggunaan metode tersebut telah dipopulerkan di Amerika Serikat, Jerman, Swiss dan negara-negara maju lainnya, dan telah menyembuhkan banyak pasien kanker, metode pengobatan ini telah mendapatkan banyak Pujian dari pasien.

Klik untuk berkonsultasi dengan dokter  >>>
 
    Nama saya XXX, bekerja sebagai manajer di sebuah perusahaan asing di Surabaya tiga tahun lalu, saya menderita kanker kolorektal, saat BAB bercampur darah dan sakit, dan badan menjadi kurus, setelah didiagnosis doketer sudah stadium lanjut. Dokter menyarankan saya untuk segera operasi, radioterapi dan kemoterapi, tapi saya berpikir ulang dan harus mempersiapkan diri secara mental, karena proses ini sangat menyakitkan, terapi radiasi setelah operasi dilakukan, dapat membakar kandung kemih, yang menyebabkan inkontinensia urin, dan harus memakai pampers jangka panjang, efek kemoterapi seperti mual, muntah, sulit makan, rambut rontok dll. Namun untuk bertahan hidup, tidak ada jalan lain, saya harus menanggung semua itu, lalu dokter mengatakan lagi, dalam kasus seperti kondisi saya, harus mengangkat rektum dan jaringan anal secara keseluruhan, dan setelah operasi akan menyebabkan kehilangan fungsi proses BAB, dan harus memakai kantong feses untuk jangka waktu yang lama. Saya membayangkan, saya sering berpartisipasi dalam kegiatan sosial dan acara teman-teman, bila jangka panjang memakai kantong tinja, sangat memalukan dan akan menyebar bau kotoran, ini sangat memalukan. Saya memutuskan menolak perawatan ini. Tapi saya tidak ingin mati begitu cepat, dan ingin terus bertahan hidup. Lalu saya mulai mencari pengobatan alternatif dimana-mana, untungnya saya membaca diinternet, terdapat metode baru untuk mengobati kanker tanpa operasi, radiasi dan kemoterapi di Klinik Utama Cahaya Mentari Jakarta. Saya langsung pergi beroabat ke sana, awalnya dokter memberi saya pengobatan dengan meningkatkan kekebalan tubuh, setelah dua atau tiga hari, kondisi stamina saya meningkat, lalu dokter memakai sebuah alat besar untuk pengobatan saya, seminggu saya diterapi dua kali, dan dilanjutkan pengobatan terus menerus sebulan kemudian, rasa sakit hilang, dan BAB jadi normal, dan pemeriksaan CT, tumor menyusut dan mengecil, lalu dokter pun menyarankan saya agar beristirahat cukup dirumah, seminggu hanya perlu melakukan sekali perawatan terapi instrumen, dan terapi perawatan ini berlanjut selama tiga bulan, kemudian dilakukan pemeriksaan CT scan, tumornya sudah hilang. Sampai sekarang, saya rutin melakukan pemeriksaan setahun sekali, dan kanker tidak kambuh. Metode baru ini sangat baik untuk mengobati kanker, jika teman-teman yang menderita kanker, saya sarankan mencoba untuk pengobatan ke Klinik Utama Cahaya Mentari Jakarta, disana akan segera dipulihkan.

Klik untuk berkonsultasi dengan dokter  >>>
 

DISCLAIMER : hasil dapat berbeda tergantung dari masing-masing individu

Anda ingin mengetahui lebih lanjut

Pendaftaran online

Konsultasi Via Telepon
  • No.telp kantor: 021-22608999
  • Klinik Utama Cahaya Mentari Rukon Puri Mutiara Blok D 12, Jl